Rabu, 11 September 2013

Teknologi Informasi & Teknologi Intelijen Dalam Organisasi Intel Indonesia

Written by : Andrea Abdul @ kompasiana

Kemajuan yang sangat pesat dalam bidang teknologi, baik itu teknologi komunikasi, komputer, teknologi informasi serta teknik dan elektronika, sangat mempengaruhi sebuah sistem pada dunia intelijen yang kesemuanya itu bertujuan untuk mencapai keunggulan informasi intelijen serta keunggulan manajemen kegiatan intelijen, yang bertujuan untuk meningkatkan keunggulan daya gempur di dalam sebuah peperangan intelijen.

Hal ini membawa perubahan pada strategi, taktik dan teknik yang dijalankan karena kesadaran yang dalam akan peran dominasi teknologi pada sebuah postur institusi intelijen. Teknologi informasi dikombinasikan dengan teknologi perang memungkinkan untuk menciptakan jenis peperangan yang secara kualitatif berbeda sangat jauh, baik dari segi manajemen pertempuran, komando kendali , sistem peralatan, sistem dukungan logistik dan lain-lain, sehingga kehadiran sebuah wadah dari semua sistem di atas terus diteliti serta disempurnakan oleh setiap organisasi intelijen di dunia.

Penggunaan teknologi informasi yang intensif, mendorong terjadinya penyesuaian konsep atau doktrin dengan kemajuan teknologi yang melekat di jamannya. Inti dari sebuah manajemen stratejik kegiatan intelijen adalah terletak pada kemampuan sang manager kegiatan intelijen itu sendiri yaitu seorang komandan atau pimpinan. Proses manajemen yang dilakukan oleh Sang Pimpinan/Komandan adalah dinamakan Komando dan Kendali, dengan pengembangan yang signifikan maka ditambahkanlah variable komunikasi serta intelijen di dalam konsep komando dan kendali yang dinamakan Command Control Communication Intelligence atau C3I. Kata C3I merupakan susunan dari komponen pendukung yang terkandung di dalam setiap kata di dalamnya yaitu unsur kodal, pemanfaatan komunikasi bagi kepentingan kegiatan intelijen baik perang maupun non perang, dan masukan bahan keterangan (baket) penting dari variabel intelijen, yang menjadi kecenderungan seiring fungsi serta peran sistem C3I di dalam dunia kemiliteran dan intelijen.

Selasa, 20 Agustus 2013

Senin, 12 Agustus 2013

Kamis, 08 Agustus 2013

Happy Eid Mubarak, guys!!

Happy Eid Mubarak for those who celebrate. Wishing you happiness, glory, peace, and love. Taqobalallahu minna wa minkum. May Allah bless us. Please forgive my mistakes :)) Enjoy your day

Minggu, 04 Agustus 2013

Hex Hall #1 - Rachel Hawkins

 Hex Hall (Hex Hall, #1)
Judul : Hex Hall
Penulis : Rachel Hawkins
Penerbit : Ufuk Fiction
Tebal : 420 Halaman
Tahun Terbit : 2011
Rating : 3 stars out of 5




  
Three years ago, Sophie Mercer discovered that she was a witch. It's gotten her into a few scrapes. Her non-gifted mother has been as supportive as possible, consulting Sophie's estranged father--an elusive European warlock--only when necessary. But when Sophie attracts too much human attention for a prom-night spell gone horribly wrong, it's her dad who decides her punishment: exile to Hex Hall, an isolated reform school for wayward Prodigium, a.k.a. witches, faeries, and shapeshifters.
By the end of her first day among fellow freak-teens, Sophie has quite a scorecard: three powerful enemies who look like supermodels, a futile crush on a gorgeous warlock, a creepy tagalong ghost, and a new roommate who happens to be the most hated person and only vampire student on campus. Worse, Sophie soon learns that a mysterious predator has been attacking students, and her only friend is the number-one suspect.
As a series of blood-curdling mysteries starts to converge, Sophie prepares for the biggest threat of all: an ancient secret society determined to destroy all Prodigium, especially her.
(source : goodreads)


Hex Hall is a story about a witch, Sophie Mercer, who is sent to Hex Hall reform school as punishment to abusing her powers. There, she begins to understand who she really is and meets Jenna, who soon became her best friend despite everyone's objection. Hecate Hall is boarding school for the delinquent fay, shapeshifters, witches, and warlocks.

This book is not original, but it was surprisingly very different. I rather liked it. Sophie was witty, sarcastic, and pretty refreshing. Love her! The main character Sophie was very relatable and none of the characters really annoyed me. Hex Hall also had a few suprises up its sleeve in terms of the plot, which was a pleasant surprise. I loved the concept of a school for misbehaving shifters, faeries and witches to be sent to and felt that the world was magical and fresh. The situations she got herself into made me either laugh, gasp, or go through a minor freak-out. The other characters, like Jenna, Elodie, and Archer, kept things entertaining. Jenna was just as witty as Sophie, but a lot more angsty. Elodie came across as a bitchy know-it-all on the surface, but towards the end, you see a different side of Elodie. And lastly, Archer who was probably my favourite character, despite his deep secret that I am dying to know more about in the second book.

From beginning to end, i found it easy to go through. Yes, some parts felt rushed and undetailed. However, when i ignored it enjoyed the story much better. I can't say that it's the best but certainly it isn't the worst. And the cliffhanger would certainly leave you wanting more. As a whole, Hex Hall was fun to read that i really enjoyed and I can't wait to read the next book in the series.

Allahu Akbar, Allah Maha Besar

Rencana rencana Allah tidak pernah datang di waktu yang salah ^^

Jumat, 02 Agustus 2013


 Selamat datang, Agustus ^^



Rabu, 31 Juli 2013

Mengubah sebuah mimpi

Banyak orang yang harus mengubah mimpi mimpi mereka saat fase kehidupan selanjutnya. Iya, fase dimana mereka harus menuntut pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dan saya tidak pernah menyangka, bahwa saya akan mengalami hal seperti diatas. Mengubah mimpi dan cita cita. Dulu saat saya SMP, saya ingiin sekali menjadi seorang diplomat. Berlanjut ke SMA, saya tetap memegang teguh cita cita tersebut (walaupun banyak opsi lain yang saya pikirkan. ex: akun, statistik, sastra) Namun berlanjut saya penjurusan, Ayah menginginkan saya untuk masuk IPA. "Biar lebih banyak punya kesempatan" Akhirnya yasudahlah sayapun menurut untuk mengambil IPA. Kemudian setelah 2 tahun saya jalani, memang betuul IPA lebih banyak punya kesempatan. Lebih banyak kesempatan untuk berjuang. Kesempatan berjuang di sekolah sekolah kedinasan. Saya pun tidak pernah menyesali bahwa saya masuk IPA. Ujian Nasional sudah selesai, saat itu sayaa mengalami diskusi yang cukup panjang dengan orang tua. Mengingat, kegagalan saya di Undangan saya pun harus jeli melihat peluang dan kemampuan saya. Akhirnya, saya memilih 2 prodi impian saya dan 1 prodi saran orang tua.

Saya begitu sadar bahwa belajar IPA+IPS dalam satu bulan benar benar bukan hal yang mudah. Namun saya berpedoman "Yang penting usaha dulu, masalah hasil diserahkan ke yang Atas." Pengumuman keluar, ternyata diterima di Teknik. Teknik Informatika. Saya kecewa. Tapi saya bersyukur. Saya masih punya kesempatan untuk berjuang untuk HI, walaupun hasilnya gagal. Saya tidak pernah menyesal dengan apa yang telah saya lakukan. Saya kemudian sadar, mungkin ini jalan Tuhan yang telah Dia rancang untuk saya. Meraih mimpi dengan jalan lain.

Pikiran saya melayang pada suatu malam, saat Ayah menanyakan "Mau lanjut kemana?" " Pengin ambil Hubungan Internasional." "Ooh. Gamau di Teknik?." " Ga. pkoknya gamau kuliah di teknik." Dan kulihat dari Mata Ayah setitik rasa kecewa dan hembusan napas. Dan saat ini saya tahu, bahwa Ridho Allah adalah Ridho Orang Tua juga. Dan saya berpikir, Inilah jawaban Tuhan untuk saya. Inilah jalan yang diberi oleh Tuhan. Saya bersyukur Tuhan mendengar doa doa saya, masih memberikan saya kesempatan untuk bangkit dan terus berjuang.

Selamat kepada teman teman yang sudah mendapat jurusan impian, semoga sukses. Selamat kepada teman teman yang belum mendapat jurusan impian, semoga ada secercah harapan yang menanti diujung sana.
Tetap semangat yang belum mendapat sekolah, Rencana rencana
Tuhan tidak pernah datang di waktu yang salah..