
Selasa, 20 Agustus 2013
Senin, 12 Agustus 2013
Kamis, 08 Agustus 2013
Happy Eid Mubarak, guys!!
Happy Eid Mubarak for those who celebrate. Wishing you happiness, glory, peace, and love. Taqobalallahu minna wa minkum. May Allah bless us. Please forgive my mistakes :)) Enjoy your day
Minggu, 04 Agustus 2013
Hex Hall #1 - Rachel Hawkins

Judul : Hex Hall
Penulis : Rachel Hawkins
Penerbit : Ufuk Fiction
Tebal : 420 Halaman
Tahun Terbit : 2011
Rating : 3 stars out of 5
Three years ago, Sophie Mercer discovered that she was a witch. It's gotten her into a few scrapes. Her non-gifted mother has been as supportive as possible, consulting Sophie's estranged father--an elusive European warlock--only when necessary. But when Sophie attracts too much human attention for a prom-night spell gone horribly wrong, it's her dad who decides her punishment: exile to Hex Hall, an isolated reform school for wayward Prodigium, a.k.a. witches, faeries, and shapeshifters.
By the end of her first day among fellow freak-teens, Sophie has quite a scorecard: three powerful enemies who look like supermodels, a futile crush on a gorgeous warlock, a creepy tagalong ghost, and a new roommate who happens to be the most hated person and only vampire student on campus. Worse, Sophie soon learns that a mysterious predator has been attacking students, and her only friend is the number-one suspect.
As a series of blood-curdling mysteries starts to converge, Sophie prepares for the biggest threat of all: an ancient secret society determined to destroy all Prodigium, especially her.
(source : goodreads)

This book is not original, but it was surprisingly very different. I rather liked it. Sophie was witty, sarcastic, and pretty refreshing. Love her! The main character Sophie was very relatable and none of the characters really annoyed me. Hex Hall also had a few suprises up its sleeve in terms of the plot, which was a pleasant surprise. I loved the concept of a school for misbehaving shifters, faeries and witches to be sent to and felt that the world was magical and fresh. The situations she got herself into made me either laugh, gasp, or go through a minor freak-out. The other characters, like Jenna, Elodie, and Archer, kept things entertaining. Jenna was just as witty as Sophie, but a lot more angsty. Elodie came across as a bitchy know-it-all on the surface, but towards the end, you see a different side of Elodie. And lastly, Archer who was probably my favourite character, despite his deep secret that I am dying to know more about in the second book.
From beginning to end, i found it easy to go through. Yes, some parts felt rushed and undetailed. However, when i ignored it enjoyed the story much better. I can't say that it's the best but certainly it isn't the worst. And the cliffhanger would certainly leave you wanting more. As a whole, Hex Hall was fun to read that i really enjoyed and I can't wait to read the next book in the series.
Jumat, 02 Agustus 2013
Rabu, 31 Juli 2013
Mengubah sebuah mimpi
Banyak orang yang harus mengubah mimpi mimpi mereka saat fase kehidupan selanjutnya. Iya, fase dimana mereka harus menuntut pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dan saya tidak pernah menyangka, bahwa saya akan mengalami hal seperti diatas. Mengubah mimpi dan cita cita. Dulu saat saya SMP, saya ingiin sekali menjadi seorang diplomat. Berlanjut ke SMA, saya tetap memegang teguh cita cita tersebut (walaupun banyak opsi lain yang saya pikirkan. ex: akun, statistik, sastra) Namun berlanjut saya penjurusan, Ayah menginginkan saya untuk masuk IPA. "Biar lebih banyak punya kesempatan" Akhirnya yasudahlah sayapun menurut untuk mengambil IPA. Kemudian setelah 2 tahun saya jalani, memang betuul IPA lebih banyak punya kesempatan. Lebih banyak kesempatan untuk berjuang. Kesempatan berjuang di sekolah sekolah kedinasan. Saya pun tidak pernah menyesali bahwa saya masuk IPA. Ujian Nasional sudah selesai, saat itu sayaa mengalami diskusi yang cukup panjang dengan orang tua. Mengingat, kegagalan saya di Undangan saya pun harus jeli melihat peluang dan kemampuan saya. Akhirnya, saya memilih 2 prodi impian saya dan 1 prodi saran orang tua.
Saya begitu sadar bahwa belajar IPA+IPS dalam satu bulan benar benar bukan hal yang mudah. Namun saya berpedoman "Yang penting usaha dulu, masalah hasil diserahkan ke yang Atas." Pengumuman keluar, ternyata diterima di Teknik. Teknik Informatika. Saya kecewa. Tapi saya bersyukur. Saya masih punya kesempatan untuk berjuang untuk HI, walaupun hasilnya gagal. Saya tidak pernah menyesal dengan apa yang telah saya lakukan. Saya kemudian sadar, mungkin ini jalan Tuhan yang telah Dia rancang untuk saya. Meraih mimpi dengan jalan lain.
Pikiran saya melayang pada suatu malam, saat Ayah menanyakan "Mau lanjut kemana?" " Pengin ambil Hubungan Internasional." "Ooh. Gamau di Teknik?." " Ga. pkoknya gamau kuliah di teknik." Dan kulihat dari Mata Ayah setitik rasa kecewa dan hembusan napas. Dan saat ini saya tahu, bahwa Ridho Allah adalah Ridho Orang Tua juga. Dan saya berpikir, Inilah jawaban Tuhan untuk saya. Inilah jalan yang diberi oleh Tuhan. Saya bersyukur Tuhan mendengar doa doa saya, masih memberikan saya kesempatan untuk bangkit dan terus berjuang.
Selamat kepada teman teman yang sudah mendapat jurusan impian, semoga sukses. Selamat kepada teman teman yang belum mendapat jurusan impian, semoga ada secercah harapan yang menanti diujung sana.
Tetap semangat yang belum mendapat sekolah, Rencana rencana
Tuhan tidak pernah datang di waktu yang salah..
Saya begitu sadar bahwa belajar IPA+IPS dalam satu bulan benar benar bukan hal yang mudah. Namun saya berpedoman "Yang penting usaha dulu, masalah hasil diserahkan ke yang Atas." Pengumuman keluar, ternyata diterima di Teknik. Teknik Informatika. Saya kecewa. Tapi saya bersyukur. Saya masih punya kesempatan untuk berjuang untuk HI, walaupun hasilnya gagal. Saya tidak pernah menyesal dengan apa yang telah saya lakukan. Saya kemudian sadar, mungkin ini jalan Tuhan yang telah Dia rancang untuk saya. Meraih mimpi dengan jalan lain.
Pikiran saya melayang pada suatu malam, saat Ayah menanyakan "Mau lanjut kemana?" " Pengin ambil Hubungan Internasional." "Ooh. Gamau di Teknik?." " Ga. pkoknya gamau kuliah di teknik." Dan kulihat dari Mata Ayah setitik rasa kecewa dan hembusan napas. Dan saat ini saya tahu, bahwa Ridho Allah adalah Ridho Orang Tua juga. Dan saya berpikir, Inilah jawaban Tuhan untuk saya. Inilah jalan yang diberi oleh Tuhan. Saya bersyukur Tuhan mendengar doa doa saya, masih memberikan saya kesempatan untuk bangkit dan terus berjuang.
Selamat kepada teman teman yang sudah mendapat jurusan impian, semoga sukses. Selamat kepada teman teman yang belum mendapat jurusan impian, semoga ada secercah harapan yang menanti diujung sana.
Tetap semangat yang belum mendapat sekolah, Rencana rencana
Tuhan tidak pernah datang di waktu yang salah..
Selasa, 30 Juli 2013
Buka Bersama Pangkalan IX Dhe
Beberapa minggu yang lalu saya diajak oleh pricil pricil alumnus smp buat ngadain bukber. Waah saya semangat banget deh nyambutnya. It has been a looong time, Man. Ditambah dengan anggota bukber yang sekolahnya melalang buana se Indonesia (kalo yang ini beneran lebay),kapan lagi coba kita ketemuan sama temen temen yang jarang ketemu? Yah, walaupun gak semuanya bisa dateng seenggaknya, mengurangi rasa kangen dan rindu ini..
Jadi, tanggal 29 Juli 2013 jam 17.00 saya meluncurlah ke Sidoroso bersama sang bebeb, rizka. Disana sudah ada si avin dan dhea. Karena kiita masih mlongo baru cuman kita yang dateng *tonjok yang nyuruh berangkat jam lima* akhirnya ngobrol ngalor ngidul. Bahasan yang paling umum saat bukber : " Lanjutnya jadinya dimana? Ambil apa?" *sigh*
Jadi, tanggal 29 Juli 2013 jam 17.00 saya meluncurlah ke Sidoroso bersama sang bebeb, rizka. Disana sudah ada si avin dan dhea. Karena kiita masih mlongo baru cuman kita yang dateng *tonjok yang nyuruh berangkat jam lima* akhirnya ngobrol ngalor ngidul. Bahasan yang paling umum saat bukber : " Lanjutnya jadinya dimana? Ambil apa?" *sigh*
Inilah dia, Buka bersama Pangkalan Ojek IX Dhe
ki-ka : Rizka, me, sari, dhea, dita, avin
Hahahahaha. Mirip dimas beck kan? Iya kaaan. Perkenalan Artis Baru. Hanif Beck
Uhuk... misii Charlie's Angels mau pose dulu
Dikarenakan kita bosan, kami memutuskan untuk berjalan jalan sedikit. Dan tujuan akhirnya adalah Pasar Malam -_- Sesampainya disana, saya memutuskan untuk menaiki Kora Kora. Uhuk, pengakuan sedikit saya belum pernah naik kora kora. Jadi malam itu adalah malam pertama saya menaiki kora kora *tarik napas*
Dan rasanya ternyataaa !@#%#^^@$#^*(&^%$#@$ Nyawanya kaya terbang ketinggalan di atas. Dan selama di kora kora itu, saya memegang lengan Tia. ihihihik. Dan ga bakal saya naik lagi. Cukup pertama dan terakhir :|
Tia dan Avin berpose di depan kora kora xD
Saat kora2 mau jalan, sempet sempetnya diajak foto -..-
Dan kemudian berlanjut dengan memasuki Rumah Hantu. Dan kesan saya, ealah ini rumah hantu? Aku kira rumah krangkeng -__- Abisnya hantunya dikrangkeng semua ihihih
Avin dan Dewa berpose di depan rumah hantu ^^
Cheees
Dan setelah itu, berakhirlah malam kita bersama #cieeeh. Yang jelas,saya menikmati malam itu. Terimakasih yaa sudah mengumpulkan kita kita dan buka bareng. Semoga masih bisa ketemu tahun tahun depan sampe 10 tahun kedepaaan Ihihih.
Langganan:
Postingan (Atom)











