Minggu, 21 April 2013

[Review] Montase - Windry Ramadhina


Montase
Kau di antara seribu sakura
Aku berharap tak pernah bertemu denganmu.
Supaya aku tak perlu menginginkanmu, memikirkanmu dalam lamunku.
Supaya aku tak mencarimu setiap kali aku rindu.

Supaya aku tak punya alasan untuk mencintaimu.

Dan terpuruk ketika akhirnya kau meninggalkanku.

Tapi...,
kalau aku benar-benar tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti apa rasanya berdua saja denganmu. Menikmati waktu bergulir tanpa terasa.
Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh mencintai...
dan dicintai sosok seindah sakura seperti dirimu.



Buku Windry kali ini berkisah tentang seorang Mahasiswa IKJ bernama Rayyi. Berawal dari kekalahan Rayyi  dari Haru Enomoto pada pemilihan film-film terbaik Greenpeace. Haru adalah mahasiswi asal Jepang yang dikirim ke Indonesia untuk studi banding. Pada kesempatan lain mereka bertemu lagi dikelas dokumenter yang akan di ajar oleh salah satu sutradara film dokumenter terbaik yaitu Samuel Hardi. Rayyi dengan ketiga temannya Bev, Sube dan Andre menyelinap masuk ke kelas tersebut. Demi diajar oleh sutradara ternama.

Tugas pertama yang mereka dapat yaitu membuat suatu film dokumenter, dan dengan ide salah satu teman Rayyi. Rayyi memilih Haru untuk menjadi model di filmnya. Rayyi merekam segala aktivitas Haru. Hasil film Rayyi mendapat pujian dari Samuel Hardi. Dari sejak itu, Rayyi menjadi ketagihan untuk merekam Haru dan alhasil mereka berduapun menjadi dekat. Haru juga tahu kalau Rayyi harus menjadi produser seperti Ayahnya, walaupun itu bukan bidang yang disukai Rayyi. Dan selanjutnya bisa dibaca sendiri..


Seperti  biasa, saya selalu terkesan dengan novel novel karya mbak windry. Gaya penulisannya terasa begitu mengalir dan rapi. Dan narasinya begitu Wow, detail bangeet. Sampai sampai saya ngira kalo Mba Windry benar benar mahasiswi IKJ. Ini beneran riset yak? Dan karakter Rayyi sendiri menurut agak sedikit kurang laki ehehe, di keseharian sosok Rayyi bisa dibilang tegas tapi langsung keok kalo berhadapan sama Ayahnya hehe. Dan kayanya romantisme Rayyi dan Haru kurang banyaaaak Hahaha. Tapi sungguh deh novel ini bagus, tapi emang sih saya lebih suka Memori dibanding ini. Ini Cuma masalah selera ko. Yang jelas, novel ini cocok banget untuk ngisi waktu luang.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar