Selasa, 14 Mei 2013

[Review] Barcelona, Te Amo

Barcelona, Te Amo 

Judul : Barcelona Te Amo
Penulis : Kireina Enno
Penerbit : bukune
Terbit : Februari 2013
Jumlah Halaman : 266 halaman
Harga : -
Rating : 3/5 stars




 Tadinya, musim panas selalu muram.
Lalu, dia datang dengan senyumnya yang indah.
ketika waktu mendamba detik-detik yang hangat dari matanya. Entah bagaimana, hati Katya begitu dingin ketika menepis uluran tangan dari laki-laki itu.

Kesepian pun menghantamnya.
Sepanjang La Rambla, angin menepi.
Sayap-sayapnya membawa Katya menari di antara pilar-pilar Gothic Quarter yang sunyi.
Membangkitkan rindu kepadanya,
seperti ombak kepada pantai yang menunggu.

Maka, di sinilah Katya berada kini.
Menyambut genggaman tangannya.
Di Place de Catalunya, tempat merpati bercengkerama.
Ketika matahari menyinari Barcelona.
Dia bagai musim panas yang begitu indah.

"Te amo," pelan ucap Katya. Akankah dia dengar?

Te amo siempre,

Kireina Enno



[ SPOILER ALERT]

Novel ini bercerita tentang cinta dan persahabatan. Kisah bermula dari 3 anak manusia yang dipertemukan menjadi sahabat. Katya, Evan, dan Sandra. Katya adalah seorang anak yatim piatu yang oleh pamannya (Om Prana-Ayah Sandra) yang sudah dianggap sebagai anak. Katya dan Sandra hidup bersama dan menjadikan hubungan mereka semakin erat. Kasih sayang Om Prana terhadap Katya pun terihat saat Omnya membelikan alat alat lukis kepada Katya yang dasarnya memiliki hobi melukis. Konflik muncul saat Sandra menyatakan perasaanya kepada Evan.

"Kenapa kamu bingung? Kamu juga cinta sama Sandra kan?"
"Aku nggak tahu."
"Kok nggak tahu?" Katya terbelalak. "Itu jawaban yang aneh. Aku tahu kamu cinta sama Sandra!"
 " Yah, mungkin. Aku cinta sama Sandra. Tapi, aku juga cinta sama kamu."
hal. 27 Barcelona, Te Amo

Demi kebahagiaan Sandra, Katya memutuskan untuk kuliah di Barcelona yang juga almameter sang Paman. Di Barcelona Katya bekerja di sebuah galeri, dimana pemiliknya juga merupakan teman Om Prana. Sembari bekerja dan kuliah, Katya sesekali masih melukis untuk mengekspresikan perasaannya. Hingga lukisannya mempertemukan Katya dengan salah satu kurator seni yang terkenal. Senor Estefan.
Sementara itu, hubungan Evan dan Sandra semakin memburuk. Evan memutuskan pergi ke Kopenhagen dan Sandra pergi ke Barcelona secara mendadak. Dan bisa dibaca kelanjutannya di novel ini


Ini adalah buku keempat dari proyek 'Setiap tempat punya cerita'. Bukunya tidak terlalu tebal (jika dibandingkan dengan Last Minute in Manhattan dan Roma), jadi dipegang dan dibacanya pun enak dan nyaman. Deskripsi tempatnya pun mendetail, sampe sampe saya jadi ingin sesekali berkunjung ke Barcelona. Karakter karakternya cukup kuat, walaupun pada awalnya saya sempat bingung karena memakai sudut pandang ketiga ternyata (tadinya aku kira mau pake sudut pandang yang pertama). Dialog Katya masih agak kaku, tapi mungkin pengarang memang sengaja untuk menunjukkan bahwa Katya ini memang formal dan kaku. Karakter Evan yang plinplan dan Sandra yang drama queen membuat saya seperti nonton sinetron. Tapi untungnya, diracik dengan porsi yang cukup. Jadi, tidak terlalu berlebihan. Namun sayangnya, ending yang sedikit dipaksakan membuat saya cukup memberikan 3 bintang untuk buku ini.

Saya agak menyayangkan pernikahan Evan dan Sandra. Karena apa? Karena menurut saya, Evan jelas jelas bilang kalau dia mencintai Sandra tidak sebesar Evan mencintai Katya. Tapi kok malah diteruskan ke pernikahan? Saya tahu kalau 'tidur bareng' menjadi alasan pernikahan mereka. Tapi apakah malah tidak akan menimbulkan masalah yang lebih rumit?

Dan hubungan antara Katya dan Manuel kurang dibumbui adegan romantis hehe :p Intinya kurang banyak dan porsi Manuel terasa lebih sedikit dibandingkan dengan Katya, Evan, dan Sandra.
Ini pertama kalinya membaca buku Mba Enno. Dan tentu saja, saya akan menunggu buku berikutnya dengan senang hati.
Salam buku,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar