Sabtu, 31 Desember 2011

Review Remember When- Winna Efendi




What i have to say about this? Incredible? Amazing? Awesome? Mungkin tiga kata tersebut cocok mendeskripsikan untuk novel ini. Saat saya membaca novel ini hampir mirip dengan perasaan saya saat membaca perahu kertasnya dewi lestari. Sungguh dapat mngaduk aduk perasaan saya
Cerita cinta masa SMA kerap diidentikan dengan cinta monyet. Tapi tidak sama halnya dengan yang terjadi antara Freya, Moses, Adrian, Gia, dan Erik. Semua emosi kumpul jadi satu, mulai dari senang, bahagia, benci, sedih, kecewa, khawatir.

Ketika saya baca soal Adrian menembak Gia dengan cara yang begitu romantis.

Ketika sampai dibagian Freya yang walau pembawaannya introvert tapi sebenarnya dia ingin sekali dipeluk, berpegangan tangan dengan Moses, dan berrkencan layaknya Gia dan Adrian yang gaya pacarannya heboh dan mesra.

Ketika Adrian harus kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupnya, ketika dia takkan bisa lagi mellihat senyum orang tersebut.

Ketika Gia dan Moses tau akan kebenaran yang selam ini seakan tertimbun oleh kebohongan dan kepura-puraan.

Ketika akhirnya Gia bisa merelakan semuanya.

Ketika orang dengan mudahnya bilang, persahabatan lebih penting dri percintaan, teman lebih penting dari pacar, rasa-rasanya tak sepenuhnya benar, walaupun tak berarti salah. Bisakah kita berdiri dengan tegak ketika kita bersama dengan orang yang kita cintai ketika kita tau bahwa dia mencintai orang lain, dan orang lain itu adalah sahabat baik kita.

Cinta tak harus memiliki, ketika kita akhirnya merelakan mereka pergi, kita hanya bisa berharap agar mereka akan bahagia pada akhirnya. Aku rasa itu itulah arti cinta yang sebenernya.

When you make decisions, you deal with consequences. Don’t expect anything in return.
Tak ada artinya jika tubuhnya berada disamping kita, tapi hatinya tak pernah menjadi milik kita, tak pernah benar benar ada di samping kita.
Jadi ketika tau pada akhirnya Gia merelakan Adrian pergi, hanya satu kata yang bisa kuucapkan. Salut.
Gak mudah untuk melepaskan orang yang kita kira akan melewati hari hingga tua dengan kita, orang yang kita kira adalah soulmate kita, orang yang sudah mnyatu dengan kita baik jiwa maupun raga, pasti sulit banget rasanya.

Being able to live with or without someone is just a matter of perspective.
Dari kita sendiri yang nentuin kita bakal bahagia atau enggak.
Dari kita jugalah yang nentuin kita sendiri atau senang, suka atau duka.

Walaupun happy ending, tapi tetap saja pikiran saya rada kalut selesai membacanya. Terlalu banyak luka. Terlalu banyak pengorbanan. Ini ujian cinta dan persahabatan yang berat.
Well, sebagai penutup saya suka sekali dengan petikan kalimat dari sinopsis Remember When
‘ Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya.’


Well, Selamat Membaca Kawan :))

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar